Selamat Datang

SELAMAT DATANG

panduutomo@rocketmail.com

Selasa, 20 Desember 2011

Kalimat Efektif


Kalimat Efektif 
 
Kalimat yang baik adalah kalimat yang dapat memberikan kemudahan atau kejelasan pesan kepada pembaca atau pendengar. Kalimat yang demikian disebut kalimat efektif. Dengan kata lain, kalimat dikatakan efektif apabila kalimat tersebut mampu secara tepat mewakili gagasan atau perasaan penyampai pesan dan sanggup memberikan gambaran yang sama tepatnya kepada pembaca atau pendengar.
Untuk mewujudkan kalimat yang efektif, kalimat harus mengandung beberapa unsur, antara lain: kesatuan gagasan dan kesepadanan struktur, kepaduan (koherensi) yang kompak, adanya penekanan, kesejajaran (keparalelan) bentuk, kehematan kata, kelogisan, dan kevariasian.  Hal itu juga sependapat dengan Akhadiah (1991:116) yang mengatakan bahwa ciri kalimat efektif adalah (1) kesepadanan dan kesatuan, (2) kesejajaran bentuk (paralelisme), (3) penekanan, (4) kehematan dalam mempergunakan kata, dan (5) kevariasian dalam struktur kalimat.
1.       Kesatuan Gagasan dan Kesepadanan Struktrur
Setiap kalimat yang baik harus secara jelas memperlihatkan kesatuan gagasan dan mengandung satu pokok permasalahan. Apabila dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan disatukan, maka akan hilang kesatuan pikiran tersebut. Sebuah kesatuan gagasan secara praktis diwakili oleh subjek, predikat, dan bisa juga ditambah objek. Kesatuan tersebut dapat berbentuk kesatuan tunggal, kesatuan gabungan, kesatuan pilihan, dan kesatuan yang mengandung pertentangan.
Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik. Untuk mewujudkan kesepadanan struktur, maka kalimat harus memenuhi syarat sebagai berikut.
a.     Kalimat harus memiliki subjek dan predikat yang jelas. Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam, bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.
Contoh:
·         Bagi semua mahasiswa yang memakai kaos oblong dilarang mengikuti perkuliahan.
Kata bagi seharusnya dihilangkan, karena menimbulkan ketidakjelasan subjek.
Seharusnya
·         Mahasiswa yang memakai kaos oblong dilarang mengikuti perkuliahan.
b.  Kalimat tidak mengandung subjek ganda. Subjek yang ganda dalam kalimat menimbulkan penafsiran yang salah bagi pembaca. Oleh karena itu, subjek yang ganda menyebabkan kalimat yang tidak efektif.
Contoh:
·         Pertanyaan itu saya kurang jelas.
 Kalimat tersebut mempunyai subjek ganda, yaitu pertanyaan itu dan saya. Kalimat tersebut dapat diperbaiki dengan cara menambah bagi diantaranya pertanyaan itu  dan saya.
Seharusnya
·         Pertanyaan itu bagi saya kurang jelas.

         c.      Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
Contoh :
·         Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara itu.
Kalimat tersebut dapat diperbaiki dengan mengubahnya menjadi kalimat majemuk atau mengganti ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat.
Seharusnya
·         Kami datang agak terlambat, sehingga kami tidak dapat mengikuti acara itu.
·         Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara itu.

2.       Kepaduan (Koherensi) yang Baik dan Kompak
Yang dimaksud dengan koherensi  atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat itu. Akan tetapi, kalimat dapat dirusak oleh berbagai hal berikut.
a.       Penempatan kata dalam kalimat yang tidak sesuai dengan pola kalimat.
Contoh
·         menanak nasi di dapur tadi pagi.
Kalimat tersebut merupakan kalimat yang baik, namun akan menjadi buruk jika susunannya diubah seperti pada contoh berikut!
·         Pagi menanak dapur di nasi tadi ibu.
b.      Kesalahan penggunaan kata depan, kata hubung, dan sebagainya.
Perhatikan contoh berikut!
·         Sejak lahir manusia memiliki jiwa melawan kepada kekejaman alam.
Kata kepada seharusnya dihilangkan seperti pada kalimat berikut.
·         Sejak lahir manusia memiliki jiwa melawan kekejaman alam.
c.       Pemakaian kata yang kontradiksi
Pemakaian kata-kata yang mengandung kontradiksi dapat merusak keefektifan kalimat.
Contoh
Percaya tidak percaya data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa minat siswa terhadap pembelajaran membaca adalah rendah.
Seharusnya
Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa minat siswa terhadap pembelajaran membaca adalah rendah.
d.      Kesalahan menempatkan keterangan aspek (sudah, telah, akan, belum) pada kata kerja tanggap.
Contoh
·         Data itu saya sudah kerjakan sampai selesai.
Kalimat tersebut salah, karena saya kerjakan sebagai bentuk tanggap tidak bisa disisipi keterangan apapun.
Jadi kalimat yang benar adalah :
·         Data itu sudah saya kerjakan sampai selesai.

3.       Penekanan
Setiap kalimat memiliki sebuah ide pokok. Penekanan dilakukan untuk memberikan penjelasan berkaitan dengan hal yang dirasa penting. Penulis dapat melakukan berbagai cara untuk memberikan  penekanan pada kalimat efektif. Cara tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.       Mengubah posisi kalimat
Sebuah kalimat dapat diubah-ubah strukturnya untuk mencapai efek yang diinginkan atau dipentingkan. Untuk mencapai efek yang diinginkan atau dipentingkan, maka penulis menempatkan sebuah kata yang penting berada pada awal kalimat.
Contoh
·         Mahasiswa menjawab pertanyaan dosen penguji.
Penekanan ini dapat diubah dengan menjadi kalimat pasif. Berikut adalah contoh kalimat tersebut:
Pertanyaan dosen penguji dijawab mahasiswa.
b.      Menggunakan repetisi (pengulangan kata)
Pengulangan kata (repetisi) dalam kalimat kadang diperlukan untuk memberikan penegasan pada bagian ujaran yang dianggap penting. Pengulangan kata yang demikian dianggap dapat membuat maksud kalimat menjadi lebih jelas.
Perhatikan contoh kalimat di bawah ini!
·         Pembangunan merupakan proses yang rumit dan mempunyai banyak dimensi, bukan hanya dimensi ekonomi tetapi juga dimensi  politik, dimensi sosial, dan dimensi budaya.
Berdasarkan kalimat di atas dapat dilihat bahwa kata dimensi merupakan kata yang diulang berturut-turut. Oleh karena itu, kata dimensi merupakan kata yang akan ditekankan oleh penulis.
c.       Menggunakan pertentangan
Pertentangan dapat pula dipergunakan untuk menekan suatu gagasan.
Perhatikan contoh kalimat di bawah ini!
Anak itu rajin.
Kalimat tersebut dapat lebih ditonjolkan bila ditempatkan dalam suatu posisi pertentangan, misalnya:
Anak itu rajin, bukan malas.
d.      Menggunakan partikel penekanan
Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa partikel yang berfungsi menonjolkan sebuah kata atau ide dalam sebuah kalimat. Partike-partikel yang dimaksud adalah: lah, pun, kah, yang dalam tata bahasa disebut imbuhan.
Perhatikan contoh kalimat di bawah ini!
(1)  Kami pun ikut dalam kegiatan itu.
(2)  Bapaklah yang memberikan sambutan itu.

4.       Kesejajaran (Paralelisme)
Kalimat efektif juga harus mengandung kesejajaran (paralelisme) antara gagasan yang diungkapkan dan bentuk bahasa sebagai sarana pengungkapnya.  Jika dilihat dari segi bentuknya, kesejajaran itu dapat menyebabkan keserasian. Jika dilihat dari segi makna atau gagasan yang diungkapkan, kesejajaran itu dapat menyebabkan informasi yang diungkapkan menjadi sistematis sehingga mudah dipahami.
Jenis pembentukan paralelisme sebagai berikut.
a.      Kesejajaran Bentuk
Bentuk kalimat yang tidak tersusun secara sejajar dapat mengakibatkan kalimat itu tidak serasi.
Contoh 
·         Buku itu telah lama dicari, tetapi Dodi belum menemukannya.
·         Peneliti sudah mengambil data, mencatatnya, kemudian dianalisis, dan dibahas.
Kalimat di atas tidak sejajar karena menggunakan bentuk kata kerja pasif (dicari) yang dikontraskan dengan bentuk aktif (menemukan). Agar sejajar, kedua bagian kalimat tersebut harus menggunakan bentuk pasif semuanya atau bentuk aktif semuanya.
Kalimat yang tepat adalah sebagai berikut.
·         Buku itu telah dicari, tetapi belum ditemukan oleh Dodi.
·         Dodi telah lama mencari buku itu, tetapi belum menemukannya.
·         Peneliti sudah mengambil data, kemudian mencatatnya, menganalisis, dan membahasnya.
b.      Kesejajaran Makna
Unsur lain yang harus diperhatikan dalam pemakaian suatu bahasa adalah segi penalaran atau logika. Kesejajaran makna ini berkaitan erat dengan penalaran. Penalaran dalam sebuah kalimat merupakan masalah yang mendasari penataan gagasan. Penalaran sangat berhubungan dengan jalan pikiran. Jalan pikiran penulis turut menentukan baik tidaknya kalimat yang dibuat, mudah tidaknya kalimat tersebut dipahami sesuai pemikiran penulis.
Contoh
      Masyarakat mengecam keras atas terjadinya pembunuhan 21 warga Palestina yang tewas dan 200 lainnya yang luka-luka.
Kalimat tersebut bukan termasuk kalimat efektif, karena untuk memahaminya, pembaca dituntut berpikir keras. Jika kita cermati akan terdapat kejanggalan karena tidak mungkin pembunuhan dilakukan terhadap orang yang sudah tewas.
Seharusnya
      Masyarakat mengecam keras atas terjadinya peristiwa yang mengakibatkan 21 warga Palestina tewas dan 200 lainnya luka-luka.
c.       Kesejajaran Bentuk dan Maknanya
Beberapa gagasan yang bertumpuk dalam satu pernyataan dapat mengaburkan kejelasan informasi yang diungkapkan.
Contoh
      Penanaman pohon akasia sebagai upaya penghijauan telah dilaksanakan warga, sebagai tindak lanjut Perda tentang penghijauan.
Kalimat tersebut tidak efektif karena terlalu sarat dengan informasi.
Agar efektif, kalimat tersebut harus dikembalikan pada gagasan semula, yang terungkap dalam beberapa kalimat berikut.
      Penanaman pohon akasia sebagai upaya penghijauan telah dilaksanakan warga.
      Penanaman ini melibatkan berbagai elemen masyarakat dari tingkat RT sampai tingkat kalurahan.
      Hal ini merupakan tindak lanjut Perda tentang pernghijauan.

5.       Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif merupakan kehematan dalam pemakaian kata, frase, atau bentuk lainnya yang dianggap tidak diperlukan. Kehematan ini menyangkut soal gramatikal dan makna kata. Kehematan tidak berarti menghilangkan kata, frase yang diperlukan atau yang menambah kejelasan makna kalimat. Untuk mewujudkan kehematan dalam menyusun kalimat efektif ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
a.       Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Perhatikan contoh:
·         Karena Ali terlambat, dia tidak dapat mengikuti perkuliahan.
Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut.
·         Karena terlambat, Ali tidak dapat mengikuti perkuliahan.
b.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
·         Kata merah sudah mencakupi kata warna.
·         Kata pipit sudah mencakupi kata burung.
Perhatikancontoh berikut!
·         Ia memakai baju warna merah.
·         Di mana kamu menangkap burung pipit itu?
Kalimat itu dapat diubah menjadi
·         Ia memakai baju merah.
·         Di mana engkau menangkap pipit itu?
c.       Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
·         Kata naik bersinonim dengan ke atas.
·         Kata turun bersinonim dengan ke bawah.
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.
·         Silakan naik ke atas ruangan itu!
·         Baru saja pejabat itu turun ke bawah melalui tangga ini.
Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi
·         Silakan naik ke ruangan itu!
·         Baru saja pejabat itu turun melalui tangga ini.
d.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak. Misalnya:
Bentuk Tidak Baku                               Bentuk Baku
para tamu-tamu                                         para tamu
beberapa orang-orang                               beberapa orang

6.       Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
Perhatikan kalimat di bawah ini.
·         Kepada Bapak Camat waktu dan tempat kami persilakan.
·         Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini.
Kalimat itu tidak logis (tidak masuk akal). Yang logis adalah sebagai berikut.
·         Kepada Bapak Camat kami persilakan.
·         Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini.
\
7.      
Kevariasian
Seorang penulis harus berusaha menghindarkan pembaca dari keletihan yang pada akhirnya akan menimbulkan kebosanan. Penulis harus berusaha agar pembaca menjadi pekerjaan yang menyenangkan. Sebuah bacaan atau tulisan yang baik merupakan suatu komposisi yang dapat memikat dan mengikat pembacanya untuk terus membaca sampai selesai. Agar dapat membuat pembaca terpikat tidaklah dapat dilakukan begitu saja. Hal ini memerlukan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya menulis. Menulis memerlukan ketekunan, latihan, dan pengalaman.
Variasi bertentangan dengan repetisi. Variasi dilakukan guna memperoleh keanekaragaman bentuk-bentuk bahasa agar minat dan perhatian orang tetap terpelihara.Variasi itu dapat dicapai dengan menggunakan bentuk inversi, bentuk pasif persona, variasi aktif-pasif, dan variasi panjang pendek.
Macam-macam variasi yang menunjang keefektifan kalimat
a.       Variasi sinonimi kata
      Variasi berupa sinonimi kata, atau penjelasan-penjelasan yang berbentuk kelompok kata pada hakikatnya tidak merubah isi dari amanat yang akan disampaikan.
Perhatikan contoh kalimat berikut!
      Dari renungan itu penyair menemukan suatu makna, suatu realitas baru, suatu kebenaran yang menjiwai seluruh puisi.
b.      Variasi panjang pendek kalimat
Variasi dalam panjang pendeknya struktur kalimat mencerminkan kejelasan pikiran pengarang. Pilihan yang tepat dari struktur panjangnya sebuah kalimat dapat memberi tekanan pada bagian-bagian yang diinginkan. Variasi panjang pendek kalimat ini dapat langsung dilihat contohnya dalam suatu paragraf. Paragraf yang variatif dalam mempergunakan panjang pendeknya kalimat adalah paragraf yang tidak menjemukan apabila dibaca.
c.       Variasi penggunaan bentuk me- dan di-
Pemakaian bentuk yang sama dalam beberapa kalimat berturut-turut juga dapat menimbulkan kelesuan. Perlu dicari vaiasi pemakaian bentuk gramatikal terutama penggunaan prefiks me- dan di-.
d.      Variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat
Variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat sebenarnya mempunyai sangkut paut dengan penekanan dalam kalimat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar